Semua keyword page one = Sukses?

Sedikit tersentil dengan postingan seorang rekan sejawat saya di sosial media. Beliau mengatakan yang intinya ada oknum SEO senior yang target keywordnya belum ada yang page one, tapi sudah mengadakan kelas berbayar.

Beruntung rekan saya ini menggunakan kata “oknum”, kalau tidak, jelas dia akan mendapatkan hadiah komen pedas dari para SEO senior.

“Mastah penghisap darah newbie”, mungkin itu sebutan yang sering dilemparkan oleh temen-temen junior ke temen-temen senior yang menarik bayaran ke temen-temen junior yang pengen belajar SEO.

Saya pribadi setuju dan paham dengan kritikan dia soal itu, tapi di benak saya jadi muncul dua pertanyaan :

  1. Apakah SEO senior bisa dikatakan sukses kalau semua target keyword masuk di page one?
  2. Apakah SEO senior boleh mengadakan kelas berbayar, hanya kalau target keywordnya masuk page one?

Alasan pertanyaan pertama

kalau seandainya page one jadi standar sukses SEO senior, menurut saya kurang adil.

Kenapa?

Pertama, Karena sekarang untuk bersaing mendapatkan ranking yang baik saja, prosesnya sudah lebih complex. Kita sudah nggak bisa berpatok hanya pada keyword dan backlink saja.

Dulu kita masih bisa linkbuilding dan mainin keyword density, proximity seorang diri aja udah cukup. Sekarang sisi technical menjadi kunci utama. Dua dari tiga proses pertama search engine, crawling-indexing, sudah berkaitan sangat erat dengan technical.

Sebagus apapun artikel yang dioptimasi, serapi apapun page taxonomy yang dibuat, akan jadi sia-sia kalau link tidak bisa di crawl dan halaman tidak bisa diindex.

Kalau kita handle website yang berbasis CMS seperti WordPress, mungkin sedikit banyak akan terbantu dengan adanya berbagai pilihan theme dan plugin.

Tapi apa jadinya jika kita dihadapkan dengan website non CMS instan, seperti ; Laravel, Nuxt, Yii, React? tentu kita akan berhadapan dengan case yang mungkin jauh lebih complex lagi.

Belum kalau bicara SPA atau PWA.. hmm.. Jujur untuk meng-SEO-kan SPA dan PWA ini, masih banyak sekali yang belum saya pahami.

Itu alasan yang pertama, ada kondisi teknis dimana kita nggak bisa mengoptimalkan website semulus yang kita harapkan. Nggak heran kalau di kalangan SEO senior muncul ungkapan “developernya kurang diajak ngopi tuh!”

Alasan kedua, katakanlah jika kita punya dedicated engineer yang handal, masih ada hal external yang mungkin sulit untuk kita hindari, yaitu stakeholder.

Pada level tertentu, sebagian SEO specialist akan menghadapi persoalan birokrasi.

Contoh kasusnya, perusahaan baru saja membangun website dengan desain UI yang sangat menarik, tampilan yang sangat dinamis dan interaktif. Tapi sayangnya UI yang ‘keren’ itu sama sekali nggak bisa dirender oleh Google.

“O’ow…”

Menghadapi masalah ini mungkin kita akan merekomendasikan “revamp” sebagai jalan terbaik. Tapi tentu bagi stakeholder menjadi pilihan yang sangat berat, karena mereka akan mempertimbangkan biaya, waktu dan tenaga yang sudah dikeluarkan untuk membangun website yang baru.

Ujung-ujungnya mereka bakal nanya “ada alternatif lain selain revamp nggak?”, disitulah kita mulai putar otak lebih kenceng lagi.

Yaah.. Mungkin revamp akan jadi worth, jika efek revamping akan membawa benefit yang value-nya jauh lebih besar.

Tapi jika kita hanya beralasan “supaya website bisa di crawl sama Googlebot”, rekomendasi kita hanya menjadi kelakar belaka. Dan kita jadi semakin sulit untuk mendapatkan performa yang kita harapkan.

Kesimpulannya, kita tidak bisa menilai SEO senior itu nggak sukses hanya karena nggak ada keyword-nya yang page one, tapi akan lebih objektif kalau kita melihat cara dia mengidentifikasi masalah dan lihat bagaimana cara dia keluar dari masalah itu.

Alasan pertanyaan kedua

Apakah SEO senior layak mengadakan kelas berbayar, hanya kalau ada target keywordnya yang masuk page one?

Benar, kita memang tidak bisa dikatakan sebagai specialist atau praktisi yang berhasil kalau kita tidak pernah mendapatkan ranking 10 besar.

Apalagi kalau kita mengadakan kelas berbayar tapi ternyata materi kita hanya kulit luarnya saja. Julukan “Mastah penghisap darah newbie” pasti semakin lekat dengan kita.

Tapi bagaimana jika oknum SEO senior yang dimaksud adalah seorang SEO consultant? bukan in-house, bukan pula agency. Dia sudah nggak pernah nulis content, sudah nggak pernah link building, sudah nggak pernah masuk ke halaman wp-admin.

Dia punya SEO knowledge yang mumpuni, bisa membuat strategic plan yang detail dan akurat, tapi satu-satunya kelemahanya hanyalah team management. Kelemahan yang mengakibatkan dia tidak bisa menyampaikan ide-idenya ke anggota team dan tidak bisa mengkonversinya menjadi sebuah ‘produk jadi’.

Apakah orang-orang seperti ini tidak layak memberikan ilmu tentang SEO? jika memang tidak layak, menurut saya dia memang tidak layak, tapi tidak layak memberikan ilmu tentang team management.

Kesimpulannya, meskipun SEO senior itu tidak punya portfolio yang cukup bagus, bukan berarti dia tidak layak untuk kita serap ilmunya. Selama ilmunya masih berada di “garis lurus”, kita masih layak untuk berguru ke dia.

Belajar dari siapapun. Entah lebih senior atau lebih junior dari kita.

Pesan untuk para senior SEO specialist

Jangan kasih harga webinar kelewat mahal untuk ilmu kulit, kasih gratis lebih baik. Jangan mau dicap mastah penghisap darah newbie tingkat senior.

Jangan juga gunakan ke-senior-an kita untuk mendapatkan keuntungan.. Jangan hanya karena kita tahu lebih dulu ilmunya, trus kita merasa berhak untuk kasih harga setinggi langit.

Tau lebih dulu bukan berarti tau lebih banyak. Tau lebih banyak bukan berarti lebih benar.