Resiko Jika Mempekerjakan ‘all-in-one’ Digital Marketer untuk Tugas SEO

 Mungkin kita pernah atau sering melihat lowongan kerja untuk jabatan Digital Marketing (DM). Sebuah jabatan yang menurut saya kesannya sangat keren dan penting dalam organisasi marketing sebuah perusahaan.

Namun sayangnya sebagian perusahaan di Indonesia belum benar-benar serius membentuk tim digital marketing yang solid. Bahkan parahnya lagi, mungkin ada perusahaan yang berharap bisa bersaing di dunia digital hanya dengan satu orang digital marketing, all in one digital marketing.

Seperti yang sama-sama kita pahami, digital marketing memiliki berbagai cabang, seperti SEO, SEM, SMM, Remarketing dll, tapi apa jadinya jika semua cabang itu hanya melibatkan 1 orang saja?

Kali ini saya akan melihat dari sisi SEO, apa saja resiko jika all in one digital marketing menghandle tugas-tugas SEO.

Mereka Bingung dengan Technical SEO

Kebanyakan ‘all-in-one’ digital marketer yang tidak benar-benar meng-expertise-kan diri ke SEO, hanya melakukan apa yang diketahuinya berdasarkan pengalaman maintain blog pribadi yang rata-rata menggunakan CMS instan seperti WordPress / Joomla / Blogspot dll.

Besar kemugnkinan mereka akan kebingungan jika ternyata yang digunakan oleh perusahaan adalah website berbasis framework.

Saya rasa tidak semua DM akan nyaman saat dihadapkan dengan website berbasis framework, karena sebenarnya website hardcoding membutuhkan beberapa penyesuaian dari segi teknis sebelum campaign sebenarnya dimulai.

Tidak Paham Metode Keyword Research

Sekarang ini ada banyak pilihan perangkat pendukung SEO untuk melakukan riset kata kunci seperti ahrefs, SEMrush, Moz dll, akan tetapi mereka tidak sepenuhnya paham bagaimana cara memanfaatkan data yang tersedia di tool tersebut.

“Yang penting search volume tinggi, dan difficulty rendah” adalah patokan umum yang mereka pahami dalam keyword research. Bahkan ada juga yang hanya mengandalkan data berdasarkan keyword planner dari Google Ads.

Berawal dari kesalahan metode keyword research itulah, muncul masalah mulai dari target kata kunci yang salah hingga audience yang salah sasaran. Traffic boleh jadi semakin padat, tapi keuntungan semakin terasa hampa.

Link Building Tidak Terukur dan Tidak Terarah

Backlink selalu menjadi andalan dalam menjalankan SEO. Bahkan para SEO profesionalpun masih berharap banyak dari backlink.

Sayangnya ada beberapa start-up yang menjalankan strategi link building dengan cara yang tidak terarah bahkan cenderung ‘ngawur’. Seperti, tertanam di website yang tidak relevan, menggunakan PBN abal-abal, spamming di forum-forum, dll.

Perlu diketahui, link building sama halnya dengan networking. Saat networking kita dilakukan dengan cara yang benar, tentunya kita akan dikenal sebagai individu yang terpercaya.

Memproduksi Content yang Serba Tipis

“yang penting 300 kata”

“harus ada keyword disini dan disitu”

“jumlah keyword segini”

Itu adalah tips-tips yang mungkin sering kita dengar, tapi tahukan kalian, jika semua itu adalah hal yang tidak lebih penting dari quality.

Content artikel yang punya 300 kata, punya keyword disini, jumlahnya segini, bla bla bla…. tidak akan membuat content tersebut dinilai berkualitas. Justru akan terkesan tipis bahkan useless jika content hanya untuk ngejar ranking sebuah keyword.


Kesimpulan

Membentuk tim digital marketing yang solid adalah sebuah keharusan. Apalagi jika perusahaan memiliki impian yang tinggi untuk menjadi yang ‘terbaik dan terpercaya’ di dunia digital.

Pada dasarnya SEO bukan sekedar kegiatan meningkatkan peringkat di search engine, tapi sebuah strategi dimana perusahaan bisa mendapatkan revenue dari search engine. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan tim SEO yang solid untuk memperoleh hasil yang maksimal.