5 Kesalahan Mindset Dalam SEO

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarokatuh,

SEO, salah satu strategi internet marketing paling efisien dan efektif. Jika dulu SEO hanya identik dengan link building saja, menurut saya SEO yang sekarang justru lebih complex, bahkan mungkin kalau boleh dibilang sudah mengganti istilah internet marketing itu sendiri.

Bagaimana nggak, saat ini hampir semua segmen di internet marketing bisa mempengaruhi nilai SEO. Aktivitas kita di sosial mediapun bisa menjadi salah satu nilai tambah.

Para pakar berkata lain

Jika kita baca tulisan para pakar SEO ternama di Moz Blog, Search Engine Journal dan lainnya, mungkin kita sedikit merasa heran, karena kita akan jarang menemukan artikel yang spesifik membahas trik SEO (misal) untuk link building.

Disana kita akan lebih sering menemukan artikel yang justru lebih kental dengan metode marketing konvensional daripada jurus-jurus sakti, kalaupun ada hal teknis, kebanyakan tentang yang sebelumnya pernah dibahas atau hasil A/B test penulisnya.

Selama hampir 6 tahun saya menjalankan SEO, selalu saja ada hal yang buat saya heran. Ada berbagai cerita dan pengalaman yang menurut saya menarik sekali untuk saya share, dan mungkin ini bisa jadi evaluasi kita sebagai praktisi SEO.

1. Semua artikel harus punya search volume yang tinggi

Banyak orang menganggap seorang specialist baru bisa dikatakan berhasil kalau mampu menemukan keyword ber-volume besar. Bahkan ada anggapan “kalau kurang dari 100 berarti nggak layak”

Jika kita mengoptimasi website dengan goal = memperbanyak jumlah visitor, anggapan tersebut tidaklah salah. Tapi akan salah kalau kita meng-handle website yang model bisnisnya berada di niche tertentu.

Yang harus kita lakukan adalah mencari keyword yang sesuai dengan demografi target pasar.

Coba kita lihat gambar dibawah

ahrefs

Gambar diatas menunjukkan tingkat kesulitan dan search volume untuk keyword “how to measure effectiveness of marketing strategy”.

Bagaimana mungkin keyword dengan search volume sangat kecil tapi punya persaingan yang cukup ketat. Ini adalah tanda bahwa keyword tersebut diperebutkan oleh banyak website karena potensi pasarnya, bukan potensi trafficnya.

Dalam hal ini, SEO specialist baru bisa dikatakan berhasil kalau dia berhasil menemukan keyword yang sesuai dengan user intent.

2. 300 kata untuk semua halaman

Saya pernah dipusingkan dengan klien yang meminta saya untuk menjalankan SEO websitenya. Bukan karena keyword yang high competition, tapi karena dia bersikeras agar saya membuat tulisan 300 kata untuk semua halaman produknya dengan alasan SEO.

Bayangkan, saya harus membuat deskripsi 300 kata untuk semua produknya yang hanya berbeda ukuran dan model. Suatu hal yang menurut saya paling sia-sia. Saya berpikir, “dari mana budaya ini berasal?”, saya jawab sendiri “entahlah?”

Sebenarnya 2 alasan teknis kenapa kita membuat 300 kata dalam landing page kita adalah; 1) untuk mengurangi rasio text-html dan 2) untuk keyword densityproximity dan relevancy. Kesimpulan 300 kata ini bukan karena ini adalah syarat dari search engine, tetapi ini adalah hitungan rata-rata yang diperkirakan para ahli untuk mendukung 2 poin tadi. Meskipun pada kenyataannya content berkualitas biasanya bisa lebih dari 1,000 kata.

Saya nggak menganggap artikel ini berkualitas, tapi tulisan ini terdiri dari 742 kata, yang semoga nggak banyak basa-basinya.

3. DA tinggi = ideal

Sebuah pemikiran yang bisa dibilang nggak salah-salah amat. Tapi kalau kita salah memahami tentang DA justru kita akan totaly salah.

Rand Fishkin (Founder Moz) pernah menjelaskan tentang DA, PA, TrustRank dll dalam video Withboard Friday. Dia menjelaskan bahwa DA hanyalah indicator link, bukan indicator kualitas website. Sayangnya ada beberapa teman saya yang termasuk SEOers cukup militan, salah salah presepsi tentang DA dan PA ini. Mereka menganggap semua website dengan skor DA yang tinggi, ideal untuk tanam backlink.

Salah? iyalah! Karena skor tinggi ini bisa saja karena websitenya memang bagus sehingga mendapatkan link acquisition yang berkualitas, tapi bisa juga skor tinggi ini karena hasil skema manipulasi untuk meninggikan skor DA.

Kalau saya lebih suka, selain melihat DA, kita juga harus memperhitungkan perbandingan skor DAnya dengan traffic yang dimiliki. Jika kita menemukan website dengan DA tinggi tapi traffic sangat rendah, besar kemungkinan itu adalah hasil spamming.

4. Menganggap PBN adalah segalanya dalam link building

Saya pernah minta pendapat pada teman saya tentang PBN. Dia menjawab PBN itu cara yang paling mudah dan gampang untuk pasang backlink. Entah karena mindset saya yang cenderung “link building = spamming” atau memang saya yang ‘katrok’ untuk strategi PBN yang satu ini.

Dari riset sederhana yang pernah saya lakukan, kebanyakan PBN dengan dengan skor DA diatas 20, terendus indikasi spammy di dalamnya. dan lagi biasanya PBN menggunakan domain yang expired.

Kalaulah kita anggap PBN tersebut berkualitas, kita harus mengetahui sistem pengelolaan PBN tersebut, apakah benar-benar profesional ataukah abal-abal. Saran saya, telitilah sebelum menggunakan PBN.

5. Kalau SEO mau sukses harus perbanyak link building

Sebelum tahun 2003, para praktisi SEO adalah seorang link builder. Dimana pada saat itu Google menilai kualitas sebuah website berdasarkan jumlah backlink terbanyak.

Website yang memiliki backlink dalam jumlah banyak, akan diberikan priorotas untuk mendapatkan ranking lebih tinggi.

Namun sejak 2003 keatas, Google mulai memperketat aturan main backlink sedikit demi sedikit.

Perubahan terbesar terjadi saat algoritma “Jagger ” diluncurkan, Saat itulah permainan backlink dalam SEO mulai berubah. Dimana Google mulai menganggap low-quality links, including reciprocal links, link farms, dan paid links adalah sebuah pelanggaran berat.

Perkembangan algoritma yang menilai value sebuah backlink terus berkembang hingga saat ini, terlebih Google memiliki algoritma penguin yang memang diciptakan untuk menilai backlink

Meskipun perubahan-perubahan terus dilakukan, Google tetap menggunakan backlink sebagai ranking-factor utamanya, hanya saja sekarang sebuah backlink memiliki value yang berbeda-beda.

Jadi saat ini, website yang punya banyak backlink belum tentu akan sukses.